
“Pendidikan karakter tidak berhenti pada tataran kurikulum formal, melainkan berakar pada peran keluarga. Kegagalan orang tua membangun pondasi moral dan pengawasan akan mereduksi fungsi sekolah dari institusi pendidikan menjadi sekadar ruang pengasuhan.”
Quo Vadis Pendidikan Karakter dalam Keluarga?
Oleh: Yohanes Francesco Jenidu, S.Pd.
(Guru Bahasa Inggris di SMPN 2 Langke Rembong, Manggarai)
Pendidikan karakter merupakan
fundamen utama yang menentukan distingsi moral dan intelektual seorang anak
dalam tatanan sosial. Secara etimologis, pertanyaan "Quo Vadis" atau
"Ke mana engkau pergi?" menjadi gugatan reflektif yang sangat relevan
untuk menilik arah pendidikan karakter dalam unit terkecil masyarakat, yaitu
keluarga. Sebagai pendidik di SMPN 2 Langke Rembong, saya mengamati adanya
diskoneksi yang tajam antara nilai-nilai ideal yang diupayakan di sekolah
dengan realitas perilaku siswa yang kian tergerus oleh rapuhnya fondasi
pendidikan dari rumah.
Keluarga sejatinya adalah schola
prima, sekolah pertama dan utama di mana benih etika, kedisiplinan, dan
tanggung jawab mulai disemaikan. Namun, saat ini kita menyaksikan fenomena
"krisis kehadiran" orang tua dalam dunia batin anak. Pendidikan karakter
di rumah sering kali terabaikan karena orang tua terjebak dalam rutinitas
ekonomi atau justru menganggap bahwa tanggung jawab moral sepenuhnya telah
berpindah ke tangan guru di sekolah. Padahal, tanpa keteladanan di rumah,
instruksi di sekolah hanyalah gema yang memantul tanpa makna.
Realitas di SMPN 2 Langke Rembong
menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan: munculnya sikap "malas tahu"
atau apatisme akut di kalangan siswa. Banyak anak yang datang ke sekolah tanpa
membawa semangat juang; mereka hadir secara fisik, namun pikiran mereka
tertinggal di tempat lain. Kurangnya dorongan dari rumah membuat motivasi
belajar mereka berada pada titik nadir. Mereka kehilangan orientasi masa depan
dan tidak memahami mengapa mereka harus bersusah payah menguasai ilmu
pengetahuan.
Fenomena ini diperparah dengan
adiksi terhadap gawai (handphone) yang tidak terkontrol. HP telah menjadi
"orang tua asuh" baru bagi anak-anak, yang menyajikan hiburan tanpa
batas namun mengikis daya konsentrasi. Fokus anak tersedot ke dalam layar kaca,
membuat mereka abai terhadap lingkungan sekitar dan tugas-tugas akademik.
Perhatian yang seharusnya diberikan orang tua untuk mendampingi masa tumbuh
kembang anak justru digantikan oleh algoritma media sosial yang sering kali
tidak mendidik, menciptakan generasi yang lebih akrab dengan dunia maya
daripada realitas sosialnya.
Dampak dari lemahnya kontrol
keluarga ini mewujud dalam berbagai tindakan indisipliner yang mencoreng wajah
pendidikan. Kebiasaan terlambat masuk sekolah, perilaku merokok di usia dini,
hingga keterlibatan dalam perkelahian antar-siswa menjadi pemandangan yang
menyedihkan. Perilaku menyimpang ini sebenarnya adalah "teriakan"
minta tolong dari anak-anak yang kehilangan figur otoritas moral di rumah.
Mereka mencari jati diri dengan cara yang keliru karena tidak adanya batasan
nilai yang tegas yang seharusnya ditanamkan sejak dini oleh orang tua.
Sikap "malas tahu" ini
mencerminkan dangkalnya kesadaran hidup. Anak-anak seolah tidak peduli pada
konsekuensi dari tindakan mereka. Ketika seorang siswa berkelahi atau merokok,
ada semacam kekosongan nurani yang membuat mereka merasa hal tersebut adalah
hal lumrah. Ini adalah indikasi kuat bahwa internalisasi nilai-nilai lonto leok
(musyawarah/kebersamaan) dan adat yang mengedepankan kesantunan mulai luntur,
tergantikan oleh egoisme individu yang dipupuk oleh tayangan-tayangan kekerasan
di internet.
Kurangnya perhatian orang tua
mengakibatkan anak merasa "bebas tanpa arah." Banyak orang tua yang
merasa sudah cukup hanya dengan memenuhi kebutuhan materi tanpa menyentuh aspek
emosional anak. Padahal, seorang anak membutuhkan dialog, apresiasi, dan
pengawasan intensif agar mereka merasa dihargai. Tanpa kasih sayang yang
terstruktur dalam bentuk disiplin, anak akan mencari pelarian pada kelompok
sepermainan yang destruktif atau tenggelam dalam kemalasan yang kronis.
Sebagai guru Bahasa Inggris, saya
merasakan dampak langsung dari degradasi karakter ini dalam proses
belajar-mengajar. Penguasaan bahasa asing menuntut ketekunan, kedisiplinan, dan
rasa percaya diri yang tinggi. Namun, bagaimana mungkin siswa dapat menguasai
grammar atau vocabulary jika semangat mereka sudah padam akibat adiksi HP dan
sikap apatis? Keberhasilan akademik tidak mungkin berdiri sendiri di atas
karakter yang rapuh; ia membutuhkan mentalitas petarung yang seharusnya ditempa
di meja makan keluarga.
Analisis singkat ini menunjukkan
bahwa kita sedang menghadapi tantangan serius dalam pembentukan manusia
seutuhnya. Pendidikan karakter bukan sekadar jargon di atas kertas kurikulum,
melainkan nafas hidup yang harus dimulai dari rumah. Jika orang tua terus
membiarkan anak-anak mereka hanyut dalam dunia digital tanpa pengawasan dan
tanpa pondasi moral yang kuat, maka sekolah hanya akan menjadi tempat
"penitipan anak" daripada tempat persemaian ilmu pengetahuan.
Sebagai penutup, menjawab
pertanyaan "Quo Vadis Pendidikan Karakter?", jawabannya kembali pada
komitmen orang tua di rumah. Sinergitas antara SMPN 2 Langke Rembong dan para
orang tua harus diperkuat. Kita perlu mengembalikan fungsi keluarga sebagai
benteng moral. Mari kita ajak anak-anak kembali sadar akan hidup, menjauhkan
mereka sejenak dari layar HP, dan memberikan perhatian tulus agar mereka tumbuh
menjadi pribadi yang berintegritas, disiplin, dan memiliki semangat belajar
yang berkobar demi masa depan Manggarai yang lebih baik.