Disiplin Di Sekolah Itu Butuh Komitmen Bersama

Tanpa adanya kesadaran kolektif, aturan hanya akan menjadi macan kertas yang tidak memiliki taring untuk mengubah karakter.

     Disiplin Di Sekolah Itu Butuh Komitmen Bersama

                  Oleh: Yohanes Francesco Jenidu, S.Pd.


Disiplin di lingkungan sekolah bukan sekadar aturan tertulis yang terpampang di papan pengumuman, melainkan denyut nadi yang menentukan kualitas pendidikan. Sebagai guru Bahasa Inggris di SMPN 2 Langke Rembong, saya melihat bahwa kedisiplinan adalah fondasi utama dalam menciptakan atmosfer belajar yang kondusif.

Namun, realita di lapangan seringkali menunjukkan potret yang kontras. Kita masih kerap menjumpai ketimpangan sikap disiplin yang terjadi di sekolah, di mana pelanggaran-pelanggaran kecil hingga sedang masih menjadi tantangan yang belum tuntas terselesaikan.

Kritik tajam patut kita arahkan pada diri sendiri, baik itu guru maupun murid. Disiplin tidak boleh dipandang sebagai beban sepihak; guru tidak bisa menuntut siswa disiplin jika dirinya sendiri masih abai terhadap ketepatan waktu dan tanggung jawab profesi.

Di SMPN 2 Langke Rembong, fenomena keterlambatan dan kurangnya kepatuhan terhadap tata tertib masih menjadi "kerikil" dalam sepatu pendidikan kita. Tanpa adanya kesadaran kolektif, aturan hanya akan menjadi macan kertas yang tidak memiliki taring untuk mengubah karakter.

Menjawab tantangan tersebut, sebuah inovasi digital kini mulai diterapkan. Berkat inisiasi rekan guru, Bapak Andy David, sekolah kita mulai mengintegrasikan daftar hadir online untuk memantau kehadiran secara lebih akurat, transparan, dan akuntabel.

Sistem digital ini bukan untuk memata-matai, melainkan sebagai alat refleksi bagi kita semua. Dengan data yang nyata, baik guru maupun murid dipaksa untuk lebih jujur terhadap komitmen waktu yang telah disepakati bersama sejak awal.

Selain teknologi, pendekatan disiplin kini mulai bergeser ke arah restitusi. Alih-alih memberikan hukuman fisik yang tidak mendidik, siswa yang melanggar kini diarahkan untuk memperbaiki kesalahan melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi lingkungan sekolah.

Contoh penerapan restitusi tersebut meliputi tugas membersihkan lahan kebun sekolah, menata taman, atau kegiatan sosial lainnya. Hal ini bertujuan agar siswa memahami konsekuensi dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap keasrian lingkungan tempat mereka belajar.

Namun, inovasi teknis dan sistem restitusi tidak akan berjalan maksimal tanpa penguatan peran internal. Kinerja wali kelas, bagian kesiswaan, pengurus OSIS, hingga guru piket harian harus disinkronkan dalam satu frekuensi yang sama.

Wali kelas harus menjadi garda terdepan yang mengenal karakter tiap anak didiknya, sementara guru piket harus konsisten dalam menjalankan fungsi kontrol di gerbang dan selasar sekolah setiap harinya.

Lebih jauh lagi, sekolah bukanlah sebuah pulau yang terisolasi. Kita tidak bisa berjalan sendiri dalam mendidik karakter siswa. Sinergi dengan keluarga adalah kunci utama, karena disiplin yang kuat bermula dari meja makan dan pola asuh di rumah.

Masyarakat dan pemerintah juga memegang peranan krusial. Lingkungan sekitar sekolah harus mendukung terciptanya ekosistem yang tertib, sementara pemerintah melalui kebijakan pendidikan perlu terus mendukung sarana prasarana yang menunjang kedisiplinan.

Komitmen bersama ini adalah harga mati. Jika salah satu pilar baik itu guru, murid, orang tua, atau Masyarakat patah, maka bangunan kedisiplinan di SMPN 2 Langke Rembong akan runtuh dan berdampak pada merosotnya mutu lulusan kita.

Mari kita jadikan disiplin sebagai kebutuhan, bukan paksaan. Dengan komitmen yang bulat, saya optimis SMPN 2 Langke Rembong mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga tangguh dalam karakter dan etika.

Sebagai penutup, marilah kita merenungkan sebuah pesan bijak: "Disiplin adalah jembatan antara cita-cita dan pencapaian; tanpa jembatan itu, harapan hanya akan tetap menjadi mimpi yang jauh di seberang". MARI TERBIASA DISIPLIN.

LINK TERKAIT